Polisi masih meminta keterangan dari keluarga dekat Istihanah. “Kita masih meminta keterangan dari kerabat korban. Ini untuk mencari motif pembunuhan,” kata Kasat Reskrim, Iptu Yusi Andi Sukmana saat ditemui di Mapolsek Jatinegara.
Ia menduga ada motif asmara dan balas dendam pada pembunuhan itu. Namun bisa pula motifnya pencurian disertai pembunuhan.
“Pelaku hanya mengambil dua HP korban namun tidak mengacak-acak kamar. Kita menduga ini pembunuhan murni. Namun ada pula kemungkinan kasus pencurian. Saat mencuri, bisa saja ketahuan. Sehingga korban dihabisi. Kita masih perdalam ini,” kata dia
Ia mengatakan, berdasarkan hasil uji forensik, korban mengalami luka sayatan pada leher, tusukan pada perut kanan dan kiri dan luka pada wajah. Namun tidak ada tanda-tanda perkosaan. “Korban sempat melawan. Namun tidak ada tanda perkosaan. Hasil uji forensik masih perawan,” kata dia.
Yusi mengatakan dia sudah mengantongi nama-nama yang sudah dicurigai. Hanya saja dia belum bresedia mengungkapkan nama-nama tersebut.
Ayah Istihanah, Tobiin, berharap Pembunuh anaknya bisa segera tertangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.”Sangat keji. Saya harap pembunuhnya segera ditangkap,” kata dia.
Tobiin yang bekerja di Jakarta, mengaku tiap jam 4 pagi selalu menelepon Istihanah yang merupakan anak pertamanya itu. Tujuannya untuk membangunkan supaya tidak telat salat Subuh. “Nyaris tiap pagi saya menelpon anak saya. Tujuannya untuk sekadar membangunkan dia agar tidak telat ibadah,” kata dia.
Namun pada Rabu pagi sekitar pukul 04.00 WIB, saat dia menelpon, ke dua nomor HP milik anaknya tidak nyambung. Ia pun merasa khawatir. Sekitar pukul 06.00 WIB lebih dia pun menelpon Siti Tasripah, bibi Istihanah yang rumahnya bersebelahan. “Sekitar jam 07.00 WIB saya dikabari Tasripah suruh pulang hari itu juga. Anak saya sudah meninggal,” kata dia.
Ditolak karena Belum Siap Menikah
Istihanah (19) di mata tetangganya tidak hanya dikenal sebagai gadis berparas cantik. Dia juga dikenal suka membantu. Dia juga aktif pada kegiatan pengajian remaja putri maupun ibu-ibu.
“Orangnya ramah. Cara berbicaranya halus,” kata Munawir, tetangga Istihanah.
Pribadinya yang ramah membuat banyak laki-laki yang naksir Istihanah. Hanya saja kerap ditolak halus dengan alasan belum mau menikah karena ingin mengurus adiknya.
“Meskipun enggan bercerita tentang kehidupan pribadinya. Tetapi kita tahu banyak laki-laki yang naksir,” kata Waniah yang masih kerabat dengan Istihanah.
Ayah Istihanah, Tobiin mengatakan anaknya jarang bercerita tentang kehidupan pribadinya. Namun tiga bulan lalu sempat telpon, kalau dirinya sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang masih satu desa.
“Saat itu Istihanah meminta izin ke saya. Karena laki-laki itu serius mau melamar. Anak saya tanya diizinkan atau tidak. Saya jawab, jika sama-sama suka dan bisa diajak hidup prihatin saya izinkan,” kata Tobiin saat ditemui seusai dimintai keterangan di Mapolsek Jatinegara, Kamis (5/12).
Bahkan sebulan lalu pada cara hajatan Tobiin menyatakan, bertemu dengan orang tua kekasih anaknya. Sudah ada pembicaraan mengenai rencana lamaran anaknya. “Dalam waktu dekat mereka akan melamar anak saya. Namun ternyata ada musibah seperti ini,” kata dia sembari berkaca-kaca.
Paman Istihanah, Hartoyo mengatakan, Istihanah bayak yang naksir. Istihanah juga pernah punya kekasih. Namun jarang mau bila diajak jalan-jalan. “Suatu saat pernah diajak jalan. Namun karena posisi sedang kerja, dia menolak. Ini membuat kekasihnya marah dan sempat membanting HP. Namun kejadian ini sudah cukup lama,” kata dia.
Hartoyo mengatakan, Istihanah memang dari keluarga tidak mampu. Dia ditinggal mati ibunya saat masih SD.”Karena persoalan ekonomi dia hanya bisa sekolah hingga lulus SD,” kata dia.
Sekitar umur 13 tahun, dia harus mengurus adiknya karena ayahnya harus bekerja di Jakarta. “Sehingga kesehariannya dia berdua bersama adiknya,” kata dia.
Sejak itu dia mengurus keperluan rumah tangga sendiri. Uang kiriman dari ayahnya dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari.Termasuk untuk kegiatan kondangan, memperbaiki kamar mandi dan lainnya. Dua tahun lalu ia mulai bekerja untuk menambah penghasilan.
“Terakhir dia berpesan ke ayahnya, jika ada uang akan digunakan untuk membenahi rumahnya. Agar lebih layak,” kata Hartoyo. sumber SATELIT POS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar